Hi, Pembaca yang baik…
Betapa senangnya saya, postingan kali ini tidak muncul terlalu lama setelah yang terkhir. Mudah-mudahan ini cikal bakal konsistensi saya sebagai pengelola account.
Anyhow...
Saya pernah berjanji akan mulai menyelipkan cerita tentang seorang sahabat, Ny. Sukab. Jadi, marilah pertama-tama kita menyimak tentang sosoknya.
Saya sering memanggilnya Ny.Sukab terutama karena kami sangat terpengaruh dengan tulisan-tulisan Seno Gumira Ajidarma tentang sesosok tokoh bernama Sukab dalam buku Surat dari Palmerah (baca postingan sebelumnya). Saya dan Ny.Sukab menghabiskan waktu bersama. Kami berbeda dalam banyak hal, sejujurnya. Namun kesemuanya membentuk harmonisasi yang indah dalam ikatan ukhuwah persahabatan. Adapun persamaan yang menonjol diantaranya... kami suka membaca. Suka sekali. Perpus atau toko buku selalu mampu membuat kami betah berlama-lama didalamnya. Menyukai diskusi, mulai dari topik paling berbobot tentang politik, ekonomi, sosial, sampai topik paling gak penting seperti ”Tempat makan mana yang menyediakan porsi kentang goreng paling banyak sampai yang paling sedikit” (Kami sepakat bahwa yang paling banyak adalah Parsley dan yang terakhir adalah Yakitori). Saya dan dia juga Food Adventurer, paling senang kalo bisa nemu tempat makan baru (Tapi dalam hal ini kami pikir masakan ibu adalah makanan terlezat di dunia). Kami berdua juga manusia air, alias sama2 menyukai olahraga renang. Saya bersyukur atas hal ini, karena cukup sulit menemukan orang yang bisa terhibur dari stress dengan berolahraga. Menurut kami, renang adalah The easiest celebreation. Kalau lagi bete, kami langsung cabut ke kolam renang. Kalau lagi hepi juga ke kolam renang. Mau hujan, mau panas, mau siang, atau malam, kami cinta berenang. Ny. Sukab berenang jauh lebih baik dari saya, saya sejauh ini belum bisa mengalahkannya bahkan satu putaran pun. Perjalanan ke berbagai tempat selalu membuat kami bersemangat. Bagi kami, petualangan adalah segala hal yang mampu membuat adrenalin terpompa. Kami membuat rencana2 untuk terus menemukan keasyikkan dalam ritme hidup yang complicated ini. Sama-sama tidak menyukai sifat melankolis dan hidangan jeroan.
Ny. Sukab adalah tipikal wanita mandiri yang sigap dan dapat diandalkan. Wawasannya yang luas dan keberaniannya mengambil peluang (kadang nekat) adalah hal yang paling berpengaruh bagiku. Sikapnya cenderung tidak ambil pusing dengan hal2 remeh, begitu peka dengan isu aktual dan melek teknologi. Kadang tidak peka dengan humor, namun sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersamanya.
Sedangkan aku tipikal wanita yang penuh kehati-hatian. Aku cenderung me-manage resiko dan menyusun alternatif. Spontan, jenaka, penuh dengan ide2 liar. Berani bermimpi. Sense of Art yang natural, menaruh perhatian pada ilmu pengetahuan dan pemikiran.
Minggu lalu saya berusia 22 tahun. Dengan baik hati, Ny.Sukab menghadiahi saya buku Alan Greenspan yang saya idam2kan. Betapa baiknya ia. Saya mentraktirnya makan malam di tempat favorite kami di parsley. Ia tampak kena flu, saya jadi kasihan melihatnya tidak bisa konsentrasi saat kami menekuri bacaan di perpus. Tapi dasar ngeyel, tetap saja dia menenggak minuman dingin, sambil berkilah bahwa penyakit jangan dimanja. Saya geleng2 kepala, entah teori darimana yang mendasari pernyataannya.
Saya sambar ia, ”Itu mah bukan dimanja, tapi sengaja dipiara...cari gara2 amat sih ente, ntar sakit parah piye...”.
Dia terkekeh2 dan mengejek, ”Gua nggak mau dikasih vitamin penguat pembuluh darah kayak punya ente. Haha, kok bisa ada obat begituan. Gua mah ogah..” Vitamin penguat pembulu darah yang diberikan dr.Bambang gara2 sempat mengalami mimisan akhir tahun kemarin memang cukup membuat izzahku luntur dihadapannya. Ia terbahak-bahak mengejekku tentang obat itu. Baginya obat itu begitu lucu untuk orang sepertiku.
”Wah..wah.. payah nih katanya militan, kok sampe harus minum vitamin penguat pembuluh darah segala...” Begitu kejam, menurutnya obat seperti itu sebuah lelucon. Jadi sekarang jika sedang terpojokkan olehku, ia akan balik membalas dengan mengejek tentang vitamin tersebut, ”Piye obat penguat pembuluh darah udah habis belum..?”, membuatku memasang tampang ”Whatever..” yang justru membuat tertawanya semakin kencang.
Kami juga suka main ”tebak2 buah manggis”. Ini karena Ny.Sukab memiliki Bapak yang sedang berkuliah S1 ditempat asalnya. Anehnya, Bapaknya yang kuliah, tapi Ny.Sukab-lah yang menjalani kesibukkan mengerjakan berbagai tugas, paper, presentasi, sampai mecari buku2 materi perkuliahannya. Aku juga jadi ketiban. Suatu hari Bapaknya minta tolong dicarikan sebuah buku dengan judul aneh; ”Koperasi di dalam Ekonomi Indonesia”. Dari judulnya saja sudah bisa ditebak sebenarnya ini tuh buku jadul, ejaannya model lama. Tapi Bapaknya bersikeras bahwa itu adalah buku edisi baru. Beliau menyebutkan pula ciri2 covernya. Lebih dari 20 toko buku di jogja kami sambangi mencari buku ajaib tersebut. Sampe2 Ny.Sukab kecopetan dan saya dengan putus asa berpikir jangan2 dosennya mencetak sendiri buku itu, jadi tidak dijual dipasaran. Ternyata sodara2, buku itu kami temukan di Perpusda dengan warna halaman yang sudah menguning. Tepat dugaan kami, itu buku lama terbitan 1987, masih bahasa orde baru. Sekonyong-konyong memang ada tulisan pada covernya, ”edisi baru”. Tapi ”baru” disini dalam konteks tahun terbit. Kalau dalam konteks sekarang, tetap saja terbitan 1987, artinya ya buku purba, bukan lagi jadul. Kami merasa puas tiap kali bisa memecahkan misteri buku yang ingin dimiliki Bapaknya. Clue-nya (pengarang, tahun terbit, atau penerbit) tidak pernah jelas, makanya kami menjadikannya permainan tebak2 buah manggis. Seminggu kemudian, Bapak kembali menghubungi untuk minta dicarikan buku Ekonomi Internasional.
Namun tidak jelas, ”Pengarangnya Sobirin atau Nopirin gitu deh pokonya...”, Ny.Sukab menerangkan samar padaku.
”Enggak Nobitha ya?”, kataku gondok. Ternyata yang ngarang bernama Dr.Sobir. Hidup permainan ”tebak2 buah manggis”!!!
Begitulah Ny. Sukab dan aku. Saya harap pembaca pun senang berteman dengannya, melaui potongan kisah2 nyentrik dalam keseharian kami.
Hari ini aku sedang tidak ingin mengganggu Ny. Sukab. Ia tenggelam dalam persiapan ujian tutup teori yang konon begitu menegangkan. Biasanya kami membaca, atau setidaknya makan siang bareng di sela aktivitas masing2 yang seabrek. Tapi hari ini biarlah ia asyik dengan setumpuk kertas2 berisi daftar bacaan bahan2 ujiannya. Kalau lulus, ia pasti merayakannya bersamaku.
Sunday, January 25, 2009
Saturday, January 17, 2009
Alan, Seno, Palestina, dan Aku
Saya terengah-engah membaca buku Alan Greenspan; Abad Prahara. Buku itu tebal betul. Tebal mungkin bukan masalah utamanya. Masalahnya adalah harganya yang cukup mahal membuat saya rada mikir untuk membelinya bulan ini (akhirnya saya suka menyalahkan diri, etos menabungnya kacau). Tidak mampu beli, saya memilih membacanya di perpustakaan; tempat yang selalu membuat saya betah berlama-lama didalamnya. Tapi tahu sendiri-lah, namanya juga perpus, jadi kegiatan membaca gak bisa seenak di kamar sendiri. Contohnya saat perpus sudah mendekati waktu tutup, padahal saya baru habisin kurang dari dua bab. Mau ngebut, tapi malah nda konsentrasi, ugh, sebel!. Dan inilah yang saya benci, rasa penasaran yang begitu menggoda untuk melahap habis isinya. Apa daya, it doesn’t belong to me. Jadilah sore itu pulang dengan gondok. Kalau lagi membaca, kepala saya dipenuhi berbagai hal. Seperti pentas yang di tayangkan. Seperti puzzle yang belum lengkap dan saya asyik menyusunnya. Seperti meninggalkan tempat saya berpijak dan jalan-jalan ke tempat yang jauh. Jadi bayangkan jika harus berhenti tanpa kita hendaki, gondok kan?
Ohya pembaca, saya juga sedang menikmati buku2 Seno Gumira Ajidarma (SGA). Gara-gara amanah yang diserahkan redaksi pada saya untuk mengasuh rubrik baru: Surat Kaleng. Rubrik itu kurang lebih memuat format yang sama dengan apa yang pernah dibuat SGA di kolam majalah Jakarta Jakarta; rubriknya bernama Serat dari Palmerah. Kumpulan rubrik yang pernah dimuat itu diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul yang sama. Demi mendalami gaya kritis-kocak yang diusung sebagai image Surat Kaleng, saya bela-belain berburu buku (langka) tersebut. Nemu di toko tinggal 3 biji, senang bukan kepalang. Saya berencana membuat postingan yang akan mencoba format itu kapan2. Kapan2 yah..! Eh, kapan ya, kapan2 itu?? Nah, itulah pokoknya.
Dalam Serat dari Palmerah, saya berkenalan dengan sosok SUKAB. Tampak bagi saya, dia ini hanya kambing hitam SGA untuk membuat sindiran2nya terhadap politikus terdengar lebih kocak. Dalam buku itu, Sukab sendiri nda jelas siapa. Entah pria atau wanita. Entah orang jahat atau baik. Kadang tampak kaya. Kadang tampak miskin, minta dana, jual kaos, dan sebagainya. Namun entah kenapa saya malah terhibur dengan tokoh Sukab ini. Saya bahkan hanya membaca kisah Sukab di lembar demi lembar surat SGA itu. Lalu menjadikannya lelucon bersama sahabatku.
Sahabat baikku, kadang suka saya panggil Ny. Sukab, ha3. Saking berpengaruhnya lelucon itu bagi kami. Naah.. mulai postingan berikutnya, saya akan menyelipkan kisah Ny. Sukab dalam cerita. Kenyataannya, Ny. Sukab bukanlah kambing hitam, dia memang mewarnai keseharian saya, kok. Dia sahabat yang saya rahasiakan identitasnya. Boleh, doong, Pak Seno, yah?? Itung2, buat saya latihan gaya menulis rubrik baru tersebut.
Baiklah, ini sudah Januari 2009. Akhir2 ini saya berdiskusi banyak tentang konflik internasional yang meresahkan hampir seluruh masyarakat dunia. Pembantaian Gaza oleh Israel. Saya bersyukur jika banyak yang ’melek’ dengan isu ini. Apapun alasan mereka untuk peduli; pelanggaran HAM, keadilan, penjajahan, kebrutalan, perdamaian, anak-anak, ekonomi, kesejahteraan, politik, sejarah, agama, syariat, apapun itu, dan mereka berkata, ”Hentikan perang!”, saya berdoa semoga Allah menyempurnakan amal baik mereka hingga hari akhir kelak. Tidak akan sia2, pembelaan kita terhadap warga gaza yang tertindas, Allah Maha Tahu.
Saya sedang berusaha keras, menyelesaikan segala sesuatunya. Agar roda2 tetap berputar. Agar lahan2 tetap tergarap. Agar pintu2 dakwah tetap disana. Allah Maha Tahu, dan kita manusia berikhtiar dengan jihad sebagai amalan.
Saya hanya punya satu diri. Satu kesempatan hidup. Namun berjuta pilihan, berjuta permasalahan. Sungguh menguasai dunia akan jauh lebih mudah, setelah kita mampu menguasai diri sendiri.
Pesan moral: Bacalah buku Alan Greenspan. Buku A. Riawan Amin. Ikuti dengan buku2 yang disebutkan didalamnya atau yang bertema seputar itu. Rekonstruksi teori2 ’mereka yang menyebut diri sebagai penemu’. Carilah banyak data tentang apa yang sedang terjadi. Anda akan terkejut bahwa semua tidak sedang berjalan baik2 saja. Dan nikmatilah malam2 Anda sulit terlelap. Saya hampir berusia 22 tahun. Dan tidak ada yang lebih menggelisahkan tidurku akhir2 ini, melainkan saya belum berbuat banyak.
Ohya pembaca, saya juga sedang menikmati buku2 Seno Gumira Ajidarma (SGA). Gara-gara amanah yang diserahkan redaksi pada saya untuk mengasuh rubrik baru: Surat Kaleng. Rubrik itu kurang lebih memuat format yang sama dengan apa yang pernah dibuat SGA di kolam majalah Jakarta Jakarta; rubriknya bernama Serat dari Palmerah. Kumpulan rubrik yang pernah dimuat itu diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul yang sama. Demi mendalami gaya kritis-kocak yang diusung sebagai image Surat Kaleng, saya bela-belain berburu buku (langka) tersebut. Nemu di toko tinggal 3 biji, senang bukan kepalang. Saya berencana membuat postingan yang akan mencoba format itu kapan2. Kapan2 yah..! Eh, kapan ya, kapan2 itu?? Nah, itulah pokoknya.
Dalam Serat dari Palmerah, saya berkenalan dengan sosok SUKAB. Tampak bagi saya, dia ini hanya kambing hitam SGA untuk membuat sindiran2nya terhadap politikus terdengar lebih kocak. Dalam buku itu, Sukab sendiri nda jelas siapa. Entah pria atau wanita. Entah orang jahat atau baik. Kadang tampak kaya. Kadang tampak miskin, minta dana, jual kaos, dan sebagainya. Namun entah kenapa saya malah terhibur dengan tokoh Sukab ini. Saya bahkan hanya membaca kisah Sukab di lembar demi lembar surat SGA itu. Lalu menjadikannya lelucon bersama sahabatku.
Sahabat baikku, kadang suka saya panggil Ny. Sukab, ha3. Saking berpengaruhnya lelucon itu bagi kami. Naah.. mulai postingan berikutnya, saya akan menyelipkan kisah Ny. Sukab dalam cerita. Kenyataannya, Ny. Sukab bukanlah kambing hitam, dia memang mewarnai keseharian saya, kok. Dia sahabat yang saya rahasiakan identitasnya. Boleh, doong, Pak Seno, yah?? Itung2, buat saya latihan gaya menulis rubrik baru tersebut.
Baiklah, ini sudah Januari 2009. Akhir2 ini saya berdiskusi banyak tentang konflik internasional yang meresahkan hampir seluruh masyarakat dunia. Pembantaian Gaza oleh Israel. Saya bersyukur jika banyak yang ’melek’ dengan isu ini. Apapun alasan mereka untuk peduli; pelanggaran HAM, keadilan, penjajahan, kebrutalan, perdamaian, anak-anak, ekonomi, kesejahteraan, politik, sejarah, agama, syariat, apapun itu, dan mereka berkata, ”Hentikan perang!”, saya berdoa semoga Allah menyempurnakan amal baik mereka hingga hari akhir kelak. Tidak akan sia2, pembelaan kita terhadap warga gaza yang tertindas, Allah Maha Tahu.
Saya sedang berusaha keras, menyelesaikan segala sesuatunya. Agar roda2 tetap berputar. Agar lahan2 tetap tergarap. Agar pintu2 dakwah tetap disana. Allah Maha Tahu, dan kita manusia berikhtiar dengan jihad sebagai amalan.
Saya hanya punya satu diri. Satu kesempatan hidup. Namun berjuta pilihan, berjuta permasalahan. Sungguh menguasai dunia akan jauh lebih mudah, setelah kita mampu menguasai diri sendiri.
Pesan moral: Bacalah buku Alan Greenspan. Buku A. Riawan Amin. Ikuti dengan buku2 yang disebutkan didalamnya atau yang bertema seputar itu. Rekonstruksi teori2 ’mereka yang menyebut diri sebagai penemu’. Carilah banyak data tentang apa yang sedang terjadi. Anda akan terkejut bahwa semua tidak sedang berjalan baik2 saja. Dan nikmatilah malam2 Anda sulit terlelap. Saya hampir berusia 22 tahun. Dan tidak ada yang lebih menggelisahkan tidurku akhir2 ini, melainkan saya belum berbuat banyak.
Saturday, December 06, 2008
Memo Macan
Kereta merambat pelan. Gerbong sunyi, orang2 mulai mengantuk. Kurang lebih pukul 23.10 WIB. Membuka "colonel yakiniku" yang sempet2nya saya beli sebelum berangkat, rasa lapar sebenarnya tidak terlalu. Tapi memaksa diri saja-lah. Mata terasa berat, kupercepat aktifitas makan malam sambil mengingat hal2 yang harus dilakukan setiba di Jakarta, besok pagi. Seseorang disebelahku telah tidur. Buku-buku yang sengaja kubawa sebagai 'teman' tertumpuk di sisi jendela gerbong. Demi menyelesaikan beberapa lembar halaman, kutahan-tahan saja rasa kantuk. Masih meladeni sms beberapa teman, tiba2 seseorang memanggilku, "Din, boleh liat buku-bukunya?".
Saya mengoper empat buku sekaligus ke bangku belakang tanpa berucap apa-apa. Marcel menangkap tangkas. Wisnu duduk disebelahnya, terdengar asyik dengan suara-suara (entah dari TV-HP yang mereka bawa atau mungkin DVD player)yang tampaknya adegan film. Di luar dugaan malam ini ketemu mereka, ternyata marcel 'boyongan' (pindahan) ke kota asalnya, Jakarta. sedangkan wisnu dalam misi jalan-jalan. Mereka berdua temen saya jaman kuliah masih padet2nya.
Iseng, saya bertanya pada mereka, "Apa nih rencana berikutnya setelah pada lulus?".
Wisnu : "Saya mah cari kerja mbak (panggilan akrab wisnu untuk saya), ntar tiga bulan nda dapat, saya lanjut profesi.."
Marcel : "Kalo gua din, kerja, trus nikah!" (yang segera kutimpali dengan "Standar amat cita2 mu..". Marcel terbahak-bahak, mangkel.
Aku sendirian saja malam ini dalam perjalanan menuju Jakarta dan paginya melanjutkan perjalanan udara ke tempat dimana kangen berlabuh; Bangka.
Setelah habis topik kami tentang planning masa depan yang tidak jelas juntrungnya, saya kembali berkonsentrasi pada bacaan. Tidak lama, mengambil posisi paling nyaman, tidur.
***
"Pada dasarnya prosedur normal tetap dijalankan...Tapi, hahaha... kan banyak 'titipan' masuk, kalo megang 'memo macan' mantep-lah...".
"titipan? memo macan?", saya minta penjelasan tambahan.
"Yaahahaha... memo..eh..titah dari 'orang berpengaruh' katakan gitu...", Pria yang sedari tadi malam menempati seat di sebelahku berujar akrab. Ia bekerja di BPK dan ingin pulang ke Jakarta dari perjalanan tugas ke Malang. Itu jawabannya saat kami ngobrol tentang nasib yang membayangi tenaga kerja fresh graduate di negri ini. Tidak banyak yang survive pada awalnya, biasanya lantang-luntung jadi kontraktor dengan kinerja setara karyawan, kompensasi minim. Berapa banyak kini, bahkan perusahan besar sekalipun mempekerjakan orang dengan sistem kontrak, perbulan lagi!. Saya teringat dengan nasib beberapa teman. Mata pria itu menerawang seiring cerita-cerita yang mengalir, memecah bekunya suasana dalam gerbong kereta pagi itu.
"Untuk jadi seperti Bapak seperti sekarang, pasti skill akuntansi-nya harus qualified ya Pak?", awal pembicaraan saya, penuh basa-basi.
"Ohh.. tidak juga. Saya background-nya malah bukan akuntan. Tapi, yah... karena udah lama di BPK, skill udah setara kalian yang lulusan S1 akuntan gitu." Saya tertawa,pastinya sudah lebih dari saya, bukan lagi setara. Pengalaman kerja bertahun-0tahun, mana ada di bangku kuliah...
"Kalo saat ini banyak akuntannya atau auditor di BPK, Pak?"
"Mmm... akuntan saya rasa."
Ah...dunia kerja hari ini, pikirku. Persaingan dalam dunia kerja sepuluh tahun yang lalu sudah tidak sama dengan hari ini. Kalo jaman dulu orang-orang yang sudah mengantongi gelar insinyur rasanya cukup untuk melenggang masuk dunia kerja. Hari ini, sekedar ijazah S1 terbukti tidak cukup memuaskan. Tapi mau melanjutkan, juga bukan jaminan untuk lolos persaingan. Saya diam, bingung memaknai. Terlihat dari punggung teman bicaraku ini, Marcel dan Wisnu yang tampak membereskan barang-barang mereka, bersiap-siap untuk turun. Wajah-wajah lulusan S1, yang semalam begitu lancar mengutarakan planning hidup mereka kedepan.
Ah...dunia kerja. Bagaimana individu2 saat ini tidak semakin terseret dalam pemikiran oportunistik? Tersita umur mikirin dirinya sendiri. Siapa yang mau mikirin ummat?? Saya merasa naif, tapi tak terelakkan harapan dalam hati saya terlintas jua, agar mereka, teman-temanku itu juga telah mempersiapkan planning untuk karir paling pahit sekalipun yang akan mereka hadapi kelak. Dan bukannya 'memo macan'.
Bapak itu masih bercerita, tentang putra putrinya. Aku mendengarkan, kisah hidup selalu menarik untukku. Kalau hidup tiap manusia itu adalah seutas tali, kita tidak tahu akan dipertemukan pada simpul yang mana. Aku tidak sedang mencampuri hidup orang lain, bukan. But i'm living my own beautiful life. Hanya saja saat ini sedang menemukan simpulnya pada si Bapak (yang lupa kutanyakan namanya hingga berpisah di Gambir!).
Kereta semakin merambat, hingga berhenti sepenuhnya. Sekitar pukul 08.00 WIB, suasana menghangat diluar gerbong. Aku mengucapkan salam padanya sebelum menghilang di balik kerumunan orang-orang.
6 Desember 08, another trip another story.
Saya mengoper empat buku sekaligus ke bangku belakang tanpa berucap apa-apa. Marcel menangkap tangkas. Wisnu duduk disebelahnya, terdengar asyik dengan suara-suara (entah dari TV-HP yang mereka bawa atau mungkin DVD player)yang tampaknya adegan film. Di luar dugaan malam ini ketemu mereka, ternyata marcel 'boyongan' (pindahan) ke kota asalnya, Jakarta. sedangkan wisnu dalam misi jalan-jalan. Mereka berdua temen saya jaman kuliah masih padet2nya.
Iseng, saya bertanya pada mereka, "Apa nih rencana berikutnya setelah pada lulus?".
Wisnu : "Saya mah cari kerja mbak (panggilan akrab wisnu untuk saya), ntar tiga bulan nda dapat, saya lanjut profesi.."
Marcel : "Kalo gua din, kerja, trus nikah!" (yang segera kutimpali dengan "Standar amat cita2 mu..". Marcel terbahak-bahak, mangkel.
Aku sendirian saja malam ini dalam perjalanan menuju Jakarta dan paginya melanjutkan perjalanan udara ke tempat dimana kangen berlabuh; Bangka.
Setelah habis topik kami tentang planning masa depan yang tidak jelas juntrungnya, saya kembali berkonsentrasi pada bacaan. Tidak lama, mengambil posisi paling nyaman, tidur.
***
"Pada dasarnya prosedur normal tetap dijalankan...Tapi, hahaha... kan banyak 'titipan' masuk, kalo megang 'memo macan' mantep-lah...".
"titipan? memo macan?", saya minta penjelasan tambahan.
"Yaahahaha... memo..eh..titah dari 'orang berpengaruh' katakan gitu...", Pria yang sedari tadi malam menempati seat di sebelahku berujar akrab. Ia bekerja di BPK dan ingin pulang ke Jakarta dari perjalanan tugas ke Malang. Itu jawabannya saat kami ngobrol tentang nasib yang membayangi tenaga kerja fresh graduate di negri ini. Tidak banyak yang survive pada awalnya, biasanya lantang-luntung jadi kontraktor dengan kinerja setara karyawan, kompensasi minim. Berapa banyak kini, bahkan perusahan besar sekalipun mempekerjakan orang dengan sistem kontrak, perbulan lagi!. Saya teringat dengan nasib beberapa teman. Mata pria itu menerawang seiring cerita-cerita yang mengalir, memecah bekunya suasana dalam gerbong kereta pagi itu.
"Untuk jadi seperti Bapak seperti sekarang, pasti skill akuntansi-nya harus qualified ya Pak?", awal pembicaraan saya, penuh basa-basi.
"Ohh.. tidak juga. Saya background-nya malah bukan akuntan. Tapi, yah... karena udah lama di BPK, skill udah setara kalian yang lulusan S1 akuntan gitu." Saya tertawa,pastinya sudah lebih dari saya, bukan lagi setara. Pengalaman kerja bertahun-0tahun, mana ada di bangku kuliah...
"Kalo saat ini banyak akuntannya atau auditor di BPK, Pak?"
"Mmm... akuntan saya rasa."
Ah...dunia kerja hari ini, pikirku. Persaingan dalam dunia kerja sepuluh tahun yang lalu sudah tidak sama dengan hari ini. Kalo jaman dulu orang-orang yang sudah mengantongi gelar insinyur rasanya cukup untuk melenggang masuk dunia kerja. Hari ini, sekedar ijazah S1 terbukti tidak cukup memuaskan. Tapi mau melanjutkan, juga bukan jaminan untuk lolos persaingan. Saya diam, bingung memaknai. Terlihat dari punggung teman bicaraku ini, Marcel dan Wisnu yang tampak membereskan barang-barang mereka, bersiap-siap untuk turun. Wajah-wajah lulusan S1, yang semalam begitu lancar mengutarakan planning hidup mereka kedepan.
Ah...dunia kerja. Bagaimana individu2 saat ini tidak semakin terseret dalam pemikiran oportunistik? Tersita umur mikirin dirinya sendiri. Siapa yang mau mikirin ummat?? Saya merasa naif, tapi tak terelakkan harapan dalam hati saya terlintas jua, agar mereka, teman-temanku itu juga telah mempersiapkan planning untuk karir paling pahit sekalipun yang akan mereka hadapi kelak. Dan bukannya 'memo macan'.
Bapak itu masih bercerita, tentang putra putrinya. Aku mendengarkan, kisah hidup selalu menarik untukku. Kalau hidup tiap manusia itu adalah seutas tali, kita tidak tahu akan dipertemukan pada simpul yang mana. Aku tidak sedang mencampuri hidup orang lain, bukan. But i'm living my own beautiful life. Hanya saja saat ini sedang menemukan simpulnya pada si Bapak (yang lupa kutanyakan namanya hingga berpisah di Gambir!).
Kereta semakin merambat, hingga berhenti sepenuhnya. Sekitar pukul 08.00 WIB, suasana menghangat diluar gerbong. Aku mengucapkan salam padanya sebelum menghilang di balik kerumunan orang-orang.
6 Desember 08, another trip another story.
Wednesday, November 26, 2008
A Walk of Reflection
Pagi sendu itu, kupakai sepatuku. Kunaikkan kancing resleting jaket hingga menyentuh daguku. Entah jam berapa pagi itu, aku tidak ingin membawa apa-apa. Sengaja saya meninggalkan HP dalam keadaan menyala, dompet juga tidak usah dibawa. Kukantongi saja sebuah mushaf Al-qur'an yang telah bermanja-manja dengan kedua mata ini sejak saya duduk si bangku SMA.
Saya memerlukan ini, saat kepala saya rasanya sudah penuh dengan permasalahan, atau rutinitas hidup sedang membawa saya pada kejenuhan. Saat beban pikiran menuntut konsentrasi penuh, dan saat mulai sulit mencari kembali makna kebahagiaan dalam perjuangan ini. A walk early in the morning, finding the lost me...
Pagi sendu itu, matahari bahkan masih malu-malu menunjukkan semburatnya. Saya mengambil arah menjauhi keramaian kota. Berjalan kaki, menyibak misteri bagaimana Tuhan meramaikan bumi. Apakah alam ini selalu terjaga, saya bertanya-tanya. Saya tersenyum getir, saat melewati barisan ilalang, Mereka terangguk-angguk dipermainkan bulir embun yang berebut menetes dari ujung daunnya. Tidak lelah dan tidak tidur, saya yakin, makhluk Allah yang satu ini, mengisi siang dan malamnya dengan lantunan dzikir pada Rabb Sang Pencipta. Saya membatin, apakah kau juga sedang cemas, hai ilalang. Bumi ini semakin tua, manusia semakin lupa. Sementara engkau menyaksikan.
Dari kejauhan saya menyaksikan rombongan pedagang. Mereka pasti mau ke pasar terdekat. Membopong pisang, karung-karung berisi bawang merah, Umbi-umbian, dan lain-lainnya. Mereka melintas. Saya memandang salah satu dari mereka yang sedang sibuk bicara, bersenda gurau. Karung-karung yang mereka bawa itu... Ah...cukupkah itu ditukar dengan biaya hidup yang kini kian melambung. Wajah-wajah penuh canda itu...tak dapat menutupi raut kesulitan yang membelenggu hidup mereka, ekspresi beban hidup yang mereka pikul sampai entah kapan. Saya membayangkan dirumahnya terdapat enam sampai tujuh orang anak melepas kepergiannya pagi ini menjemput rizki. Saya menoleh lagi, menengok mereka. Sebuah Spanduk dipasang tinggi bergambar wajah seorang tokoh politik yang sedang mencoba peruntungannya melatar belakangi pemandangan saya kini. Pemandangan yang kontras. Orang besar dengan orang kecil dalam sketsa jalanan sepi pagi ini. Mereka, para pedagang itu, mungkin tidak pernah tahu kesulitan yang membayang dunia saat ini ditengah krisis global. Mereka bagai urutan terkecil dari sebuah rantai makanan; sasaran utama dimangsa. Cukuplah beban hidup,mereka tidak pernah menuntut banyak. Selain harga kebutuhan hidup yang murah, biaya pendidikan dan kesehatan yang dapat dijangkau orang-orang kerdil. Tidak lebih dari jaminan atas hidup yang keras ini. Sedangkan para politikus bak predator yang jadi rantai terakhir dimana semua semua spesies berakhir di perutnya; kenyang. Tiba-tiba saya tersadar bahwa dakwah ini bukan pekerjaan sederhana. Saya teringat dengan Abu Bakar ra dan Umar ra. Yang mungkin menangis jika berjumpa ummatnya dalam keadaaan demikian menderita. Begitu jauh kondisi ummat Islam saat ini, dimana saya hanya dapat memandang kawanan orang-orang kecil itu lewat, kelu, tanpa dapat berbuat lebih.
Saya memohon ampun pada Allah, berjanji bahwa pekerjaan yang panjang ini tidak akan pernah saya tinggalkan karena alasan apapun.
Saya sampai di padang rumput yang cukup luas. Disisinya terdapat bukit kecil dengan bebatuan yang berundak-undak. Berlatar pemandangan yang tiba-tiba menggetarkan jiwa saya sangat hebat; Merapi. Suasana pagi itu menciptakan siluet yang sangat indah di utara tanah Jogja. Gunung merapi, dengan asap tipis panjang horizontal dipuncaknya, angkuh dan memesona. Saya berdiri diatas undakan bebatuan, mencoba sejajar dengan sosok Merapi. Saya maknai dalam-dalam tatap muka saya pagi ini dengannya. Jiwa saya bergetar hebat saat dalam hati bergumam menyapanya dengan salam. Gunung-gununglah yang terlebih dahulu ditawarkan Allah untuk menjadi khalifah dimuka bumi sebelum manusia. Dan ia menolaknya. Ia merasa tidak sanggup dan takut mengecewakan Allah SWT. Jatuhlah amanah itu kepada manusia dengan segala keistimewaannya. Manusia yang kauh lebih kerdil secara jasadiyah dibandingkan dengan sebuah gunung. Manusia dengan segala kecenderungannya untuk lalai, lemah, dan mengeluh.
Jadi kita sampai disini, batinku. Al-Qur'an menyimpan perkataan Allah SWT bahwa gunung-gunung yang kita kira diam pada tempatnya sebenarnya bergerak. Mereka berpindah tempat dan berjalan dimuka bumi yang dalam ilmu geografis mungkin dapat kita terjemahkan menjadi penyebab gempa, cekungan, patahan, dan sebagainya. Merapi dan gunung-gunung lain yang tersebar di penjuru bumi adalah saksi sebuah pertaruhan gengsi masa lalu. Sebuah gengsi berbingkai takwa pada Allah SWT. Kini kita hidup berdampingn dengan mereka. Berbuat semaunya tanpa menyadari bahwa mereka mengawasi.
Saya tertegun mendapati diriku pagi ini begitu malu terhadap makhluk Allah yang raksasa ini. Begitu kecil daya dan ketahanan saya sebagai seorang hamba. Padahal sejarah telah memenangkan kita di antara seleksi menjadi khalifah.
Sadarlah saya bahwa hidup telah punya prolog. Telah tertulis disana segalanya.
Saya melangkah pulang. ruang-ruang kosong itu kini terisi kembali. Saya tersenyum, mengharap gunung itu, ilalang tadi, dan mungkin para malaikat yang bertemu sepanjang jalan mendoakan saya. Agar kuat kaki saya menancap pada dakwah.
Pulangnya saya menganbil jalan pintas, saya ingin cepat sampai.
Sebuah analogi, terkadang aku menoleh. Tapi aku tahu bukan saatnya untuk berhanti.
Saya memerlukan ini, saat kepala saya rasanya sudah penuh dengan permasalahan, atau rutinitas hidup sedang membawa saya pada kejenuhan. Saat beban pikiran menuntut konsentrasi penuh, dan saat mulai sulit mencari kembali makna kebahagiaan dalam perjuangan ini. A walk early in the morning, finding the lost me...
Pagi sendu itu, matahari bahkan masih malu-malu menunjukkan semburatnya. Saya mengambil arah menjauhi keramaian kota. Berjalan kaki, menyibak misteri bagaimana Tuhan meramaikan bumi. Apakah alam ini selalu terjaga, saya bertanya-tanya. Saya tersenyum getir, saat melewati barisan ilalang, Mereka terangguk-angguk dipermainkan bulir embun yang berebut menetes dari ujung daunnya. Tidak lelah dan tidak tidur, saya yakin, makhluk Allah yang satu ini, mengisi siang dan malamnya dengan lantunan dzikir pada Rabb Sang Pencipta. Saya membatin, apakah kau juga sedang cemas, hai ilalang. Bumi ini semakin tua, manusia semakin lupa. Sementara engkau menyaksikan.
Dari kejauhan saya menyaksikan rombongan pedagang. Mereka pasti mau ke pasar terdekat. Membopong pisang, karung-karung berisi bawang merah, Umbi-umbian, dan lain-lainnya. Mereka melintas. Saya memandang salah satu dari mereka yang sedang sibuk bicara, bersenda gurau. Karung-karung yang mereka bawa itu... Ah...cukupkah itu ditukar dengan biaya hidup yang kini kian melambung. Wajah-wajah penuh canda itu...tak dapat menutupi raut kesulitan yang membelenggu hidup mereka, ekspresi beban hidup yang mereka pikul sampai entah kapan. Saya membayangkan dirumahnya terdapat enam sampai tujuh orang anak melepas kepergiannya pagi ini menjemput rizki. Saya menoleh lagi, menengok mereka. Sebuah Spanduk dipasang tinggi bergambar wajah seorang tokoh politik yang sedang mencoba peruntungannya melatar belakangi pemandangan saya kini. Pemandangan yang kontras. Orang besar dengan orang kecil dalam sketsa jalanan sepi pagi ini. Mereka, para pedagang itu, mungkin tidak pernah tahu kesulitan yang membayang dunia saat ini ditengah krisis global. Mereka bagai urutan terkecil dari sebuah rantai makanan; sasaran utama dimangsa. Cukuplah beban hidup,mereka tidak pernah menuntut banyak. Selain harga kebutuhan hidup yang murah, biaya pendidikan dan kesehatan yang dapat dijangkau orang-orang kerdil. Tidak lebih dari jaminan atas hidup yang keras ini. Sedangkan para politikus bak predator yang jadi rantai terakhir dimana semua semua spesies berakhir di perutnya; kenyang. Tiba-tiba saya tersadar bahwa dakwah ini bukan pekerjaan sederhana. Saya teringat dengan Abu Bakar ra dan Umar ra. Yang mungkin menangis jika berjumpa ummatnya dalam keadaaan demikian menderita. Begitu jauh kondisi ummat Islam saat ini, dimana saya hanya dapat memandang kawanan orang-orang kecil itu lewat, kelu, tanpa dapat berbuat lebih.
Saya memohon ampun pada Allah, berjanji bahwa pekerjaan yang panjang ini tidak akan pernah saya tinggalkan karena alasan apapun.
Saya sampai di padang rumput yang cukup luas. Disisinya terdapat bukit kecil dengan bebatuan yang berundak-undak. Berlatar pemandangan yang tiba-tiba menggetarkan jiwa saya sangat hebat; Merapi. Suasana pagi itu menciptakan siluet yang sangat indah di utara tanah Jogja. Gunung merapi, dengan asap tipis panjang horizontal dipuncaknya, angkuh dan memesona. Saya berdiri diatas undakan bebatuan, mencoba sejajar dengan sosok Merapi. Saya maknai dalam-dalam tatap muka saya pagi ini dengannya. Jiwa saya bergetar hebat saat dalam hati bergumam menyapanya dengan salam. Gunung-gununglah yang terlebih dahulu ditawarkan Allah untuk menjadi khalifah dimuka bumi sebelum manusia. Dan ia menolaknya. Ia merasa tidak sanggup dan takut mengecewakan Allah SWT. Jatuhlah amanah itu kepada manusia dengan segala keistimewaannya. Manusia yang kauh lebih kerdil secara jasadiyah dibandingkan dengan sebuah gunung. Manusia dengan segala kecenderungannya untuk lalai, lemah, dan mengeluh.
Jadi kita sampai disini, batinku. Al-Qur'an menyimpan perkataan Allah SWT bahwa gunung-gunung yang kita kira diam pada tempatnya sebenarnya bergerak. Mereka berpindah tempat dan berjalan dimuka bumi yang dalam ilmu geografis mungkin dapat kita terjemahkan menjadi penyebab gempa, cekungan, patahan, dan sebagainya. Merapi dan gunung-gunung lain yang tersebar di penjuru bumi adalah saksi sebuah pertaruhan gengsi masa lalu. Sebuah gengsi berbingkai takwa pada Allah SWT. Kini kita hidup berdampingn dengan mereka. Berbuat semaunya tanpa menyadari bahwa mereka mengawasi.
Saya tertegun mendapati diriku pagi ini begitu malu terhadap makhluk Allah yang raksasa ini. Begitu kecil daya dan ketahanan saya sebagai seorang hamba. Padahal sejarah telah memenangkan kita di antara seleksi menjadi khalifah.
Sadarlah saya bahwa hidup telah punya prolog. Telah tertulis disana segalanya.
Saya melangkah pulang. ruang-ruang kosong itu kini terisi kembali. Saya tersenyum, mengharap gunung itu, ilalang tadi, dan mungkin para malaikat yang bertemu sepanjang jalan mendoakan saya. Agar kuat kaki saya menancap pada dakwah.
Pulangnya saya menganbil jalan pintas, saya ingin cepat sampai.
Sebuah analogi, terkadang aku menoleh. Tapi aku tahu bukan saatnya untuk berhanti.
Sunday, November 02, 2008
The Kids Around
Ammah...
"ikan paus bahasa inggrisnya apa?"
"kalo pelangi apa?"
"trus kalo cicak, mah...?"
Ammah dinda...
"pampers wildan minta diganti..."
"buatin susu coklat dong, mah..."
"mau nonton power rangers, pokoknya power rangers!!"
Ammah dinda...
"Buatin gambar bunga"
"pakein baju yang ini"
"aku mau itu!! mau yang itu, mah..."
Ammah...
"ikut naek motor"
"gendong, ammah! gendooongg...."
Ammah....
"kenapa ini engga boleh dibuka??"
"leher ammah mana sih?? kok engga keliatan..."
"rambut ammah mana, liat!! lihat, ammah!!"
Ammah dinda...
"jogja itu dimana?"
"Nanti ammah ke sini lagi kan, mah?"
yah, mah!!!
Teringat dengan ocehan kalian.
Cendol-cendol (kids) nun jauh di sana. Ammah love you guys...
Kak Vio dan e-an (raihan)
Kak nisa dan danti
Syifa dan shira
A-al (si anhal) dan ating (fathir)
Bang ari dan menya (sharfina)
Ivald dan icha (aisha)
Ilga, sahsa, dan dede barunya
Dhea dan farhan
Daffa yang pemalu
Dede Valdo...
dan kesayangan ammah dinda dan tante wita,sang raja iler, si kembar fauzan dan wildan
Tiba-tiba ammah kangen...
Siapa mau main ke pantai...?. Dan cendol-cendol itu biasanya langsung bersorak, "Akuuu...ikut, mah.. Ikut, mah!!". Riuh!
"ikan paus bahasa inggrisnya apa?"
"kalo pelangi apa?"
"trus kalo cicak, mah...?"
Ammah dinda...
"pampers wildan minta diganti..."
"buatin susu coklat dong, mah..."
"mau nonton power rangers, pokoknya power rangers!!"
Ammah dinda...
"Buatin gambar bunga"
"pakein baju yang ini"
"aku mau itu!! mau yang itu, mah..."
Ammah...
"ikut naek motor"
"gendong, ammah! gendooongg...."
Ammah....
"kenapa ini engga boleh dibuka??"
"leher ammah mana sih?? kok engga keliatan..."
"rambut ammah mana, liat!! lihat, ammah!!"
Ammah dinda...
"jogja itu dimana?"
"Nanti ammah ke sini lagi kan, mah?"
yah, mah!!!
Teringat dengan ocehan kalian.
Cendol-cendol (kids) nun jauh di sana. Ammah love you guys...
Kak Vio dan e-an (raihan)
Kak nisa dan danti
Syifa dan shira
A-al (si anhal) dan ating (fathir)
Bang ari dan menya (sharfina)
Ivald dan icha (aisha)
Ilga, sahsa, dan dede barunya
Dhea dan farhan
Daffa yang pemalu
Dede Valdo...
dan kesayangan ammah dinda dan tante wita,sang raja iler, si kembar fauzan dan wildan
Tiba-tiba ammah kangen...
Siapa mau main ke pantai...?. Dan cendol-cendol itu biasanya langsung bersorak, "Akuuu...ikut, mah.. Ikut, mah!!". Riuh!
Subscribe to:
Posts (Atom)