Hollaa..
Man its almost a year since the last time I wrote, what a long time no see you guys.. Para pembaca budiman, saya menunda-nunda terus untuk kembali menulis di blog ini setiap kali mood itu muncul. Bahkan seorang teman yang baru saya kenal yang ternyata adalah pembaca blog ini (saya sebetulnya senang dengan istilah “pembaca blog saya” haha.. sok ngetop gela) mengirim pesan di inbox-ku untuk kembali menulis. Tentu saja habis dapat pesan begitu langsung termotivasi untuk menulis. Tapi motivasi ya tinggal motivasi. Postingan mentah berupa draft-draft berserakan di dokumenku. Dan ide-ide seputar topic tulisan berserakan di kepala, hilir mudik, datang, tapi lalu pergi.
Jadi sudahlah. Saya akhirnya kangen juga pengin menulis lagi di blog. Saya masih akan terus mengelola blog ini. Walaupun belum professional, but I just simply think that by reading my journals, there gotta be something people can take from. So people, here Im back on track!
So, apa saja yang terjadi pada Anda dalam waktu hampir setahun belakangan ini?. Kenapa saya Tanya Anda duluan, karena yang selanjutnya akan jadi topik adalah seputar what happens to me lately. Here’s the short story you guys wanna hear..
Saya akhirnya berhasil menyelesaikan Penelitian Phenomenology yang jelas sekali dari kemarin-kemarin itu menyita waktu dan pikiran. Menjadi orangyang pertama bisa mempersembahkan penelitian jenis ini di kampus FEUII (bersama-sama dengan sukap) rasanya merupakan harga sepadan dengan lama waktu studi yang aku habiskan di kampus. Kami betul-betul kerja keras, yang bikin saya suka inget dengan masa-masa “keras” yang harus dilalui untuk membangun teori. Menemukan data-data dan sedemikian rupa membuat data-data tersebut “bicara”. Memperdebatkan kredibilitas temuan-temuan kami.
Ahh..mengasyikkan sekali saat saya harus menjelaskan kepada beberapa orang bahwa pendekatan ini tidak umum, namun sangat istimewa karena sifat pengungkapan detilnya. Dan tentunya, karena peneliti dalam phenomenologi punya kedudukan yang sangat istimewa yaitu sebagai alat analisis. And for bonus, of course, you can say bubye to statistic things… ^^
Dan mendapati bahwa dalam perjalanannya, penelitian ini mendapat apresiasi dari beberapa orang adalah hal yang lebih saya inginkan daripada sekedar lulus dari kampus. Saya ga akan pernah lupa saat seorang pimpinan unit bisnis yang saya kirimi ringkasan- menelpon saya hanya untuk mengungkapkan apresiasi dan ketertarikannya pada penelitian tersebut (ia bahkan ingin mengetahui penelitian saya sampai hasil akhirnya). Sebuah hal sederhana, yang tanpa ia sadari menjadi dukungan berarti saat saya mengalami masa krisis karena tidak banyak orang mengerti tentang pendekatan phenomenology.
Cukuplah masa yang menyenangkan saat bergulat dengan penelitian itu, saya harap sekarang copy-an karya saya mampu menginspirasi banyak orang, bermula dari perpus kami yang sederhana di FEUII. Dan para pembaca yang mungkin sedang terlibat dengan si-phenomenology ini, dengan senang hati saya dapat berbagi pengalaman. All you have to do is text me , free of charge baby..
Now, for another big thing happened to my life was the wedding. Yes, im merried. This charming guy really took my hand to enter a new beginning of life. Dan mulai sekarang, dari sinilah semua akan bermula :)
That is all folks… Saya betul-betul menikmati tiap momen tersebut terjadi pada diri saya. Menikmati tiap perubahan yang perlahan-lahan saya hadapi sebagai konsekuensi dari hidup-> tumbuh. Dan menuliskannya disini, membaginya untuk Anda para pembaca, bagi saya lebih seperti mengevaluasinya, memastikan bahwa selalu ada pelajaran yang dapat saya ambil dari hidup.
Saturday, March 06, 2010
Saturday, June 13, 2009
Something lovely named Lala
Lala is something cute when she was a baby
Is anything pertaining to lazy
Is annoying when she got dizzy
But she also is someones nice to have a talk with
Someones great to have a battle with
Someones cool to make a friend with
It is more than just a pride to have her in family
It is a blessful gift
Lala, gadis belia yang aktif ini telah melengkapi aku dan Bunna, yang tadinya duet at home menjadi the trio. 16 tahun, black-messy-look hair, rebel style, and chilled.
Anggota rumah-termuda ini hampir selalu terlihat asyik dengan sesuatu. Bola basketnya atau tali skipping. Buku atau laptop. Kuas atau pensil warna. Tiba2 di dapur sibuk dengan apple pie, terkadang puding. Atau seharian di kamar saja bekerja dengan laptop, memasang headset ke telinganya sampai2 mumy tidak bisa menyuruhnya pergi ke warung. Belum lagi jadwal hariannya mulai dari sekolah, les, eskul, mengaji, sampe hang out bersama kawan2nya. Lala dan masa belia yang sedang dilaluinya, menjadi cerita yang tidak habis2.
Menggandeng tangan Lala saat berjalan di keramaian adalah hal yang menyenangkan. Dan aku membayangkan, kalau tidak ada Lala, akan sebeda apakah semua kenyataan tentang aku dan Bunna. Apakah kami akan menjadi sebagaimana diri kami hari ini?. Apakah akan menyenangkan pagi hari tanpa keributan tentang disiplin?. Apakah akan seru keluar makan tanpa mengingat-ingat menu kesukaannya?. Apakah akan menyenangkan menghabiskan waktu hanya berdua saja ?. Apakah akan sama rasanya pulang larut malam tanpa terkunci diluar, jika tidak ada Lala yang menghilangkan kunci serep dan tidur duluan?. Sepertinya tidak... I think we just love being mad yet dumbed, as long as she’s fine.
Nyanyian Freedy Johnston ”Love Grows Where My Rosemary Goes” entah bagaimana tiba2 saja mengingatkanku pada Lala.
She ain't got no money…Clothes are kinda funny…Hair is kinda wild and free
Oh, but love grows where my Rosemary goes…And nobody knows like me
She talks kinda lazy…People say she's crazy…And her life's a mystery
Oh, but love grows where my Rosemary goes…And nobody knows like me
Dan seperti pertautan batin, tiba2 saja mampir di monitor HP saya,
1missed call:
Lha2
Is anything pertaining to lazy
Is annoying when she got dizzy
But she also is someones nice to have a talk with
Someones great to have a battle with
Someones cool to make a friend with
It is more than just a pride to have her in family
It is a blessful gift
Lala, gadis belia yang aktif ini telah melengkapi aku dan Bunna, yang tadinya duet at home menjadi the trio. 16 tahun, black-messy-look hair, rebel style, and chilled.
Anggota rumah-termuda ini hampir selalu terlihat asyik dengan sesuatu. Bola basketnya atau tali skipping. Buku atau laptop. Kuas atau pensil warna. Tiba2 di dapur sibuk dengan apple pie, terkadang puding. Atau seharian di kamar saja bekerja dengan laptop, memasang headset ke telinganya sampai2 mumy tidak bisa menyuruhnya pergi ke warung. Belum lagi jadwal hariannya mulai dari sekolah, les, eskul, mengaji, sampe hang out bersama kawan2nya. Lala dan masa belia yang sedang dilaluinya, menjadi cerita yang tidak habis2.
Menggandeng tangan Lala saat berjalan di keramaian adalah hal yang menyenangkan. Dan aku membayangkan, kalau tidak ada Lala, akan sebeda apakah semua kenyataan tentang aku dan Bunna. Apakah kami akan menjadi sebagaimana diri kami hari ini?. Apakah akan menyenangkan pagi hari tanpa keributan tentang disiplin?. Apakah akan seru keluar makan tanpa mengingat-ingat menu kesukaannya?. Apakah akan menyenangkan menghabiskan waktu hanya berdua saja ?. Apakah akan sama rasanya pulang larut malam tanpa terkunci diluar, jika tidak ada Lala yang menghilangkan kunci serep dan tidur duluan?. Sepertinya tidak... I think we just love being mad yet dumbed, as long as she’s fine.
Nyanyian Freedy Johnston ”Love Grows Where My Rosemary Goes” entah bagaimana tiba2 saja mengingatkanku pada Lala.
She ain't got no money…Clothes are kinda funny…Hair is kinda wild and free
Oh, but love grows where my Rosemary goes…And nobody knows like me
She talks kinda lazy…People say she's crazy…And her life's a mystery
Oh, but love grows where my Rosemary goes…And nobody knows like me
Dan seperti pertautan batin, tiba2 saja mampir di monitor HP saya,
1missed call:
Lha2
Wednesday, June 10, 2009
Changes
Malam itu mumy masuk kamar. Aku masih berkaca-kaca, sedikit sembab, dan sengau.
“Mi…aku putus..”
Mumy menghela napas dan tersenyum.
“Mami senang deh, kalo gitu.”
Aku tertawa sebal, sambil merengek didepannya.
”Trus gimana ya, Mi...”
Mumy dan Ayah datang malam itu untuk mengajakku makan malam diluar. Kebetulan menjamu seorang tamu juga. Dan siapa yang mood untuk beramah tamah sedemikian rupa dalam kondisi putus cinta seperti yang kurasakan malam itu?. Aku bergeming. Tapi seorang ibu, selalu punya apa yang paling dibutuhkan saat genting.
”Adek, kalo laki2 putus sama kita, dia yang rugi. Bukan kita.”
Dan senyum pun mengembang, aku beranjak dan memilih gaun malam itu. Menikmati rasanya patah hati, dengan sebuah perayaan makan malam.
***
Sepenggal kisah seru jaman edan yang masih bisa kuingat, kadang menyisakan drama tersendiri. Bahkan jika Mum berbohong malam itu, untuk sekedar membuatku merasa lebih baik, aku akan tetap berterima kasih. Mum tahu betul yang dibutuhkan anak perempuan saat putus cinta hanyalah membesarkan egonya. Ia sedang sedih, sedang tidak ingin tahu tentang benar atau salah. Hanya ingin dipahami rasa nelangsa itu.
Okay, terlepas dari benar atau tidaknya cara ini, tapi, c’mon guys, it works. Dan lagipula, romansa-ku kala itu tak ubahnya lagu. Habis diujung liriknya. Seterusnya, putar lagu lain.
Tujuh tahun kemudian, saat menulis postingan ini, saya tersenyum-senyum. Apa yang membuat tersenyum, saya juga ndak tahu. Entah lucu atau bagaimana. Yang pasti, tidak ada pikiran untuk menangis seperti malam itu. Lalu saya tertegun. Hey... betapa silly!. Tidak pernah terlintas di benak saya malam itu, bahwa suatu hari, tujuh tahun kemudian, saat saya harus mengingat kembali semua pristiwa itu, saya melakukannya tanpa menangis. Bahkan tanpa merasa sedih yang tersisa, apapun. Malahan saya bisa mengingat detil sejarah putus cinta itu sambil tersenyum dan (sedikit) tertawa (merasa konyol).
Kalo saja malam itu saya bisa berpikir, tenang din..semua ini hanya akan jadi sejarah. Suatu hari kau bahkan akan bisa mengingatnya dengan tawa. Tentu tak perlulah saya kuras habis2an air mata. Haha, ini tidak solutif, okay sudahlah...
Inilah yang menarik, bahwa manusia ternyata punya potensi yang sangat besar untuk berubah. Saya bicara dalam aspek pikiran dan tindakkan. Tidak ada yang serba stagnan. Apa yang saya pikirkan hari ini, bisa jadi tidak saya pahami esok hari. Hal-hal yang tadinya terasa begitu penting, bisa jadi kehilangan maknanya suatu saat. Sebagaimana makna ”Kehilangan Pacar” yang tujuh tahun lalu membuat dunia saya runtuh seketika, kini hampir tidak saya rasakan efeknya selain romansa sejarah.
Ternyata memang, semua dapat berubah. Baik kita, maupun keadaan, dan hal-hal diluar diri kita. Mendung tidak selamanya. Panas terik juga tidak selamanya. Yang patah akan tumbuh. Yang hilang akan berganti. Dan hal-hal disekitar diri akan mempengaruhi kita lebih dominan dalam merespon satu pristiwa. Kemudian perubahan diri kita tadi akan membawa perubahan pada hal-hal disekitar kita. Dan begitu seterusnya.
Sebuah hakekat perubahan, sebenarnya. Sedangkan masalah kecenderungan (berubah) naik atau (berubah) turun, adalah masalah lain (yang mengikutinya). Teringat perkataan Rasulullah Saw agar tiap hari kita membuat peningkatan. Hari ini lebih baik dari kemarin. Dan Besok lebih baik lagi dari hari ini. Inilah yang kita pahami dengan lebih baik, bukan?
Pengetahuan tentang hakekat perubahan, yang sejauh ini banyak membantu saya dalam mengatasi masalah. Tak terkecuali masalah perasaan. Jadi kalau sedang sedih, atau gagal, atau takut dan cemas, saya berhenti sejenak dan memikirkan, tenang din..semua ini hanya akan jadi sejarah. Suatu hari kau bahkan akan bisa mengingatnya dengan tawa. Membawa diri saya lebih santai menjemput solusi.
***
Untuk romansa sejarah yang modelnya terus berulang dalam hidup gue. Sebetulnya malam itu tidak terlalu buruk. Si tamu Ayah ternyata masih anak muda juga. Dan tampaknya ada yang membocorkan rahasia malam itu, sehingga di mobil ia sibuk menjahili, ada yang lagi patah hati nih...
Huh, bicara soal sopan santun dan ramah tamah jamuan makan malam...^^
“Mi…aku putus..”
Mumy menghela napas dan tersenyum.
“Mami senang deh, kalo gitu.”
Aku tertawa sebal, sambil merengek didepannya.
”Trus gimana ya, Mi...”
Mumy dan Ayah datang malam itu untuk mengajakku makan malam diluar. Kebetulan menjamu seorang tamu juga. Dan siapa yang mood untuk beramah tamah sedemikian rupa dalam kondisi putus cinta seperti yang kurasakan malam itu?. Aku bergeming. Tapi seorang ibu, selalu punya apa yang paling dibutuhkan saat genting.
”Adek, kalo laki2 putus sama kita, dia yang rugi. Bukan kita.”
Dan senyum pun mengembang, aku beranjak dan memilih gaun malam itu. Menikmati rasanya patah hati, dengan sebuah perayaan makan malam.
***
Sepenggal kisah seru jaman edan yang masih bisa kuingat, kadang menyisakan drama tersendiri. Bahkan jika Mum berbohong malam itu, untuk sekedar membuatku merasa lebih baik, aku akan tetap berterima kasih. Mum tahu betul yang dibutuhkan anak perempuan saat putus cinta hanyalah membesarkan egonya. Ia sedang sedih, sedang tidak ingin tahu tentang benar atau salah. Hanya ingin dipahami rasa nelangsa itu.
Okay, terlepas dari benar atau tidaknya cara ini, tapi, c’mon guys, it works. Dan lagipula, romansa-ku kala itu tak ubahnya lagu. Habis diujung liriknya. Seterusnya, putar lagu lain.
Tujuh tahun kemudian, saat menulis postingan ini, saya tersenyum-senyum. Apa yang membuat tersenyum, saya juga ndak tahu. Entah lucu atau bagaimana. Yang pasti, tidak ada pikiran untuk menangis seperti malam itu. Lalu saya tertegun. Hey... betapa silly!. Tidak pernah terlintas di benak saya malam itu, bahwa suatu hari, tujuh tahun kemudian, saat saya harus mengingat kembali semua pristiwa itu, saya melakukannya tanpa menangis. Bahkan tanpa merasa sedih yang tersisa, apapun. Malahan saya bisa mengingat detil sejarah putus cinta itu sambil tersenyum dan (sedikit) tertawa (merasa konyol).
Kalo saja malam itu saya bisa berpikir, tenang din..semua ini hanya akan jadi sejarah. Suatu hari kau bahkan akan bisa mengingatnya dengan tawa. Tentu tak perlulah saya kuras habis2an air mata. Haha, ini tidak solutif, okay sudahlah...
Inilah yang menarik, bahwa manusia ternyata punya potensi yang sangat besar untuk berubah. Saya bicara dalam aspek pikiran dan tindakkan. Tidak ada yang serba stagnan. Apa yang saya pikirkan hari ini, bisa jadi tidak saya pahami esok hari. Hal-hal yang tadinya terasa begitu penting, bisa jadi kehilangan maknanya suatu saat. Sebagaimana makna ”Kehilangan Pacar” yang tujuh tahun lalu membuat dunia saya runtuh seketika, kini hampir tidak saya rasakan efeknya selain romansa sejarah.
Ternyata memang, semua dapat berubah. Baik kita, maupun keadaan, dan hal-hal diluar diri kita. Mendung tidak selamanya. Panas terik juga tidak selamanya. Yang patah akan tumbuh. Yang hilang akan berganti. Dan hal-hal disekitar diri akan mempengaruhi kita lebih dominan dalam merespon satu pristiwa. Kemudian perubahan diri kita tadi akan membawa perubahan pada hal-hal disekitar kita. Dan begitu seterusnya.
Sebuah hakekat perubahan, sebenarnya. Sedangkan masalah kecenderungan (berubah) naik atau (berubah) turun, adalah masalah lain (yang mengikutinya). Teringat perkataan Rasulullah Saw agar tiap hari kita membuat peningkatan. Hari ini lebih baik dari kemarin. Dan Besok lebih baik lagi dari hari ini. Inilah yang kita pahami dengan lebih baik, bukan?
Pengetahuan tentang hakekat perubahan, yang sejauh ini banyak membantu saya dalam mengatasi masalah. Tak terkecuali masalah perasaan. Jadi kalau sedang sedih, atau gagal, atau takut dan cemas, saya berhenti sejenak dan memikirkan, tenang din..semua ini hanya akan jadi sejarah. Suatu hari kau bahkan akan bisa mengingatnya dengan tawa. Membawa diri saya lebih santai menjemput solusi.
***
Untuk romansa sejarah yang modelnya terus berulang dalam hidup gue. Sebetulnya malam itu tidak terlalu buruk. Si tamu Ayah ternyata masih anak muda juga. Dan tampaknya ada yang membocorkan rahasia malam itu, sehingga di mobil ia sibuk menjahili, ada yang lagi patah hati nih...
Huh, bicara soal sopan santun dan ramah tamah jamuan makan malam...^^
Wednesday, April 08, 2009
Para...digma...
Mungkin paradigma, yang akhirnya dapat saya klaim sebagai penjelasan. Atas kerumitan2 pola pikir yang kadang menjebak saya, sukap, dan segelintir orang, dalam pikiran yang berbeda. Hanyalah paradigma, kata Sukap, dalam obrolan kami suatu hari. Aku hening dalam pikiran yang menjelajah. Paradigma-kah, akar perubahan yang dicita-citakan peradaban itu?
Anda tahu film Perempuan Berkalung Surban?. Ambillah contoh kalau tiga orang dengan paradigma berbeda-menonton film tersebut. Orang positivistik akan dengan puas berkesimpulan bahwa film itu cukup menarik, menceritakan bahwa betapa beruntung orang2 dengan kebebasan-berani menyatakan dirinya berbeda meskipun itu harus menentang arus. Aliran konstruksionis akan sedikit sinis, bahwa film itu tidak sepenuhnya jujur. Bahwa film itu pasti terpengaruh Hanung Bramantya, sang sutradara, yang menangkap gambaran pondok pesantren sedemikian ortodoks, walaupun kenyataannya bisa jadi tidak begitu. Sehingga bisa jadi film itu disusun dengan sengaja mengakuisisi gambaran subjektif seseorang. Dan paradigma kritis akan lebih kusut lagi mempertanyakan apa fakta yang dapat tercium dibalik pembuatan film tersebut. Mampukah detil2 gambar dan adegan dalam film tersebut membawa kita sampai pada kesimpulan utuh. Tentang pikiran Liberalisme, misalnya? Mengapa buku2 Pramoedya dijadikan detil dalam beberapa adegan?. Mengapa adegan buka kerudung, hubungan suami istri, atau adegan di hukum dalam kamar mandi ditampilkan demikian detil?. Yang jawabannya menurut saya sederhana: karena demikianlah Islam ingin digambarkan kepada penonton. Dan seperti ulasan saya sebelumnya mengenai kebebasan (baca postingan Set Me Free), gambaran Islam yang ’dibuat-buat’ ini dihadapkan pada konsep kebebasan. Padahal tidak harus dari buku2 Pramoedya Ananta Toer, kita bisa mengambil referensi yang tak kalah segar dengan ide2 serupa. Dari kalangan ulama dan pemikir muslim, ide2 keadilan antara laki2 dan perempuan bukanlah hal yang kering sebagaimana ditampilkan dalam Perempuan Berkalung Surban. Sesuatu yang akhirnya mereka namakan kesetaraan gender itu, kebebasan itu, seolah-olah jadi topik gersang dalam paradigma Islam. Padahal dalam kenyataannya, jika saja kita mau mengkaji Al-Qur’an dan risalah dakwah Rasulullah, Islam justru turun dengan ide utama keadilan dan hak asasi manusia (kebebasan) jauh sebelum pihak2 tertentu mengklaim ide tersebut.
Paradigma kritis, adalah saat anda mulai menyadari mulai dari hal2 kecil. Seperti anda menyadari mengapa desain rak2 rendah sedemikian rupa pada minimarket, dan kasirnya selalu di dekat pintu. Mengapa troli2 belanja di departemen store dirancang sedemikian besar dan lengkap dengan baby seat. Sampai pada hal2 yang lebih kompleks. Seperti mengapa pada saat beberapa koran serempak menampilkan headline isu politik, koran tertentu malah memilih headline isu agribisnis. Mengapa saat pemberitaan agresi israel terhadap palestina genar hampir di seluruh media elektronik, Metro TV malah getol dengan isu bencana lokal.
Saya mulai mengingat-ingat kapan terakhir kalinya saya percaya pada isu di media cetak dan elektronik. Saat mumy kuatir bukan main wabah flu burung melanda Indonesia tempo hari, saya lambat-lambat mulai kuatir flu burung bukan masalah sederhana. Bukan sekadar wabah penyakit yang timbul tanpa sebab. Dapatkah kita membuktikan bahwa flu burung sebenarnya adalah sebuah skenario anggun ekonomi dunia untuk menjatuhkan krisis ekonomi dimana-mana? Dan sementara masyarakat begitu panik dengan penyakit ini, resesi ekonomi mulai merembes... menjangkiti wilayah makro dan menimbulkan penyakit dengan wajah lain yang tak kalah ganasnya; krisis ekonomi asia.
Saya mengingat-ingat, bahwa memang pada situasi tertentu, fakta dibalik fakta itu memang mudah ditemui. Dan kadang menjadi jengkel mengetahui kita berada dalam sebuah skenario, adalah tanda2 kita penganut paradigma kritis itu. Bahwa tiba2 saya tidak setuju pada beberapa hal yang sebelumnya tidak saya permasalahkan.
Kenyataannya, hal2 yang terpengaruh paradigma ini memang begitu merepotkan. Misalnya, kadang saya jadi dianggap kurang rileks. Komentar2 seperti ”Ya ampun Din, santai aja kalee... cuman film doang.. Lu tegang amat.” atau ”Ah, kamu, Din. Udahlah, banyak hal yang diluar jangkauan kita". Dan betapa menyesakkan tiap kali harus berbeda dalam hal2 yang lebih penting. Dalam merumuskan tujuan bersama, misalnya. Membuat orang lain melihat sesuatu , sebagaimana kita melihat sesuatu itu, bukanlah perkara gampang.
Saya enggan terburu2 mengklaim sebuah paradigma sebagai ciri utama diri saya, atau seseorang. Yang ini, atau yang itu. Karena kadang kita jadi salah kaprah. Dan seperti seorang sahabat saya suatu hari pernah berkata, ”Ideologi itu seperti udara yang kita hirup. Kamu ga bisa milih unsur tunggal”. Dan cita2 peradaban Islam itu tentulah telah lama terwujud, seandainya paradigma itu telah lebih dulu kita bangun dalam dimensi visi.
Jadi saya memilih untuk menikmati setiap kali lintasan paradigma mengaduk-aduk isi kepalaku. Bahwa saya tidak sekedar melebih-lebihkan sesuatu atau malah mengurang-ngurangkan. Bahwa akal pikiran memang ada, dan dengan-nya-lah kita membawa diri tahap demi tahap mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Dan bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah. Tentu saja, kita selalu bisa berkompromi dengan itu.
Thanks to,
Teman2 redaksi yg penuh inspirasi. Dan paradigma itu kita bongkar pasang disana.
Anda tahu film Perempuan Berkalung Surban?. Ambillah contoh kalau tiga orang dengan paradigma berbeda-menonton film tersebut. Orang positivistik akan dengan puas berkesimpulan bahwa film itu cukup menarik, menceritakan bahwa betapa beruntung orang2 dengan kebebasan-berani menyatakan dirinya berbeda meskipun itu harus menentang arus. Aliran konstruksionis akan sedikit sinis, bahwa film itu tidak sepenuhnya jujur. Bahwa film itu pasti terpengaruh Hanung Bramantya, sang sutradara, yang menangkap gambaran pondok pesantren sedemikian ortodoks, walaupun kenyataannya bisa jadi tidak begitu. Sehingga bisa jadi film itu disusun dengan sengaja mengakuisisi gambaran subjektif seseorang. Dan paradigma kritis akan lebih kusut lagi mempertanyakan apa fakta yang dapat tercium dibalik pembuatan film tersebut. Mampukah detil2 gambar dan adegan dalam film tersebut membawa kita sampai pada kesimpulan utuh. Tentang pikiran Liberalisme, misalnya? Mengapa buku2 Pramoedya dijadikan detil dalam beberapa adegan?. Mengapa adegan buka kerudung, hubungan suami istri, atau adegan di hukum dalam kamar mandi ditampilkan demikian detil?. Yang jawabannya menurut saya sederhana: karena demikianlah Islam ingin digambarkan kepada penonton. Dan seperti ulasan saya sebelumnya mengenai kebebasan (baca postingan Set Me Free), gambaran Islam yang ’dibuat-buat’ ini dihadapkan pada konsep kebebasan. Padahal tidak harus dari buku2 Pramoedya Ananta Toer, kita bisa mengambil referensi yang tak kalah segar dengan ide2 serupa. Dari kalangan ulama dan pemikir muslim, ide2 keadilan antara laki2 dan perempuan bukanlah hal yang kering sebagaimana ditampilkan dalam Perempuan Berkalung Surban. Sesuatu yang akhirnya mereka namakan kesetaraan gender itu, kebebasan itu, seolah-olah jadi topik gersang dalam paradigma Islam. Padahal dalam kenyataannya, jika saja kita mau mengkaji Al-Qur’an dan risalah dakwah Rasulullah, Islam justru turun dengan ide utama keadilan dan hak asasi manusia (kebebasan) jauh sebelum pihak2 tertentu mengklaim ide tersebut.
Paradigma kritis, adalah saat anda mulai menyadari mulai dari hal2 kecil. Seperti anda menyadari mengapa desain rak2 rendah sedemikian rupa pada minimarket, dan kasirnya selalu di dekat pintu. Mengapa troli2 belanja di departemen store dirancang sedemikian besar dan lengkap dengan baby seat. Sampai pada hal2 yang lebih kompleks. Seperti mengapa pada saat beberapa koran serempak menampilkan headline isu politik, koran tertentu malah memilih headline isu agribisnis. Mengapa saat pemberitaan agresi israel terhadap palestina genar hampir di seluruh media elektronik, Metro TV malah getol dengan isu bencana lokal.
Saya mulai mengingat-ingat kapan terakhir kalinya saya percaya pada isu di media cetak dan elektronik. Saat mumy kuatir bukan main wabah flu burung melanda Indonesia tempo hari, saya lambat-lambat mulai kuatir flu burung bukan masalah sederhana. Bukan sekadar wabah penyakit yang timbul tanpa sebab. Dapatkah kita membuktikan bahwa flu burung sebenarnya adalah sebuah skenario anggun ekonomi dunia untuk menjatuhkan krisis ekonomi dimana-mana? Dan sementara masyarakat begitu panik dengan penyakit ini, resesi ekonomi mulai merembes... menjangkiti wilayah makro dan menimbulkan penyakit dengan wajah lain yang tak kalah ganasnya; krisis ekonomi asia.
Saya mengingat-ingat, bahwa memang pada situasi tertentu, fakta dibalik fakta itu memang mudah ditemui. Dan kadang menjadi jengkel mengetahui kita berada dalam sebuah skenario, adalah tanda2 kita penganut paradigma kritis itu. Bahwa tiba2 saya tidak setuju pada beberapa hal yang sebelumnya tidak saya permasalahkan.
Kenyataannya, hal2 yang terpengaruh paradigma ini memang begitu merepotkan. Misalnya, kadang saya jadi dianggap kurang rileks. Komentar2 seperti ”Ya ampun Din, santai aja kalee... cuman film doang.. Lu tegang amat.” atau ”Ah, kamu, Din. Udahlah, banyak hal yang diluar jangkauan kita". Dan betapa menyesakkan tiap kali harus berbeda dalam hal2 yang lebih penting. Dalam merumuskan tujuan bersama, misalnya. Membuat orang lain melihat sesuatu , sebagaimana kita melihat sesuatu itu, bukanlah perkara gampang.
Saya enggan terburu2 mengklaim sebuah paradigma sebagai ciri utama diri saya, atau seseorang. Yang ini, atau yang itu. Karena kadang kita jadi salah kaprah. Dan seperti seorang sahabat saya suatu hari pernah berkata, ”Ideologi itu seperti udara yang kita hirup. Kamu ga bisa milih unsur tunggal”. Dan cita2 peradaban Islam itu tentulah telah lama terwujud, seandainya paradigma itu telah lebih dulu kita bangun dalam dimensi visi.
Jadi saya memilih untuk menikmati setiap kali lintasan paradigma mengaduk-aduk isi kepalaku. Bahwa saya tidak sekedar melebih-lebihkan sesuatu atau malah mengurang-ngurangkan. Bahwa akal pikiran memang ada, dan dengan-nya-lah kita membawa diri tahap demi tahap mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Dan bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah. Tentu saja, kita selalu bisa berkompromi dengan itu.
Thanks to,
Teman2 redaksi yg penuh inspirasi. Dan paradigma itu kita bongkar pasang disana.
Thursday, April 02, 2009
Topik dalam Jenuh? Tidak ada..
Hujan turun deras. Aroma khas-berbau debu dari tanah basah-terangkat ke udara, masuk ke penciumanku. Mengingatkanku pada rumah, dengan intensitas hujan yang sangat sering di Bangka, aroma seperti ini sering muncul. Menenangkan jiwa.
Saya sendirian saja di kamar, menyusun postingan kali ini (akhirnya!). Sambil mengingat-ingat kembali rentetan aktivitas sepanjang bulan ini, tema besar seharusnya adalah seputar penyelesaian skripsi. Sebelum akhirnya berubah jadi tema-tema lain. Ahh, anda tau-lah. Sesuatu bernama ketidak konsistenan itu...
Minggu-minggu ini saya tidak teralalu antusias membaca topik berat. Mungkin sedang jenuh. Alih-alih menyelesaikan beberapa buku ekonomi ideologis dari daftar bacaku, saya memilih topik-topik ringan yang cukup menghibur dan yang paling penting, menjaga paradigma kritis memandang hidup ini.
Ada beberapa judul baru yang cukup asyik dapat saya temukan, diantaranya ”Memoar Seorang Filosof” karya Bryan Magee. Dan sebuah buku yang bercerita tentang bagaimana hormon mempengaruhi seorang aktris terkenal yang sekaligus seorang istri dan ibu, Brooklyn Shields. Bukunya berjudul ”Pospartum Depression” kalo ga salah. Saya pikir layak anda jadikan raferensi untuk bacaan ringan. Keduanya cukup inspiring. Selain itu, saya juga menambah koleksi bacaan bernuansa feminis, kali ini berupa karya fiksi (novel) 634 halaman berjudul ”Brick Lane” karya Monica Ali. Tidak bisa dibohongi, buku ini menururt saya sarat dengan nuansa feminis, dengan mengangkat kisah (fiktif) seorang gadis belia dari desa Mumbay-India, bernama Nazneen. Kelak di akhir cerita, Nazneen yang tadinya sangat lugu dan dan cenderung pasif, bahkan tidak menikmati pernikahannya, bermetamorfosis menjadi istri dan ibu yang cerdas, dan berhasil menyelamatkan bahtera pernikahannya. Dari hidup yang awalnya membosankan (Sungguh! Saya sampai betul2 bosan membaca bagian2 cerita ini, seolah tak terbayangkan bagaimana hambarnya hidup Nazneen. Saya skip sampai beberapa bab saking bosannya) sampai pada kebahagiaan di akhir cerita. Unsur paling kental dari feminisme tertuang dalam ide kesetaraan peran (gender). That is all about.
Anyhow... Saya malah jadi menyoroti latar belakang ”Brick Lane” yang settingnya di sebuah daerah kumuh di India bernama Mumbay. Awal Maret lalu, anda pasti tahu, sebuah film dari negri ini (juga berlatar cerita di Mumbay) ”Slamdog Millionaire” telah meraih delapan piala oscar. Ada apa dengan Mumbay??. Ide film itu sangat sederhana sebenarnya, tentang keberuntungan. Thats it! Tidak banyak unsur edukasi dan nilai moralnya. Selain karena idenya yang mungkin fresh, latar budaya ekses dari kemiskinan penduduk negri tersebut-juga secara blak-blakkan dipamerkan pada dunia. Orang Hoolywood bisa jadi senang dengan yang beginian, jadilah dengan gegap gempita delapan oscar mereka (Slamdog Millionaire Crews) boyong pulang.
Hey... lihatlah, saya jadi malah mengajak anda ngobrol ga penting. Ha3...
Memang benar, saya sedang tidak punya topik khusus. Saat ini bagaikan ada benang kusut dikepala saya. Mengurainya satu persatu adalah proses yang tidak mudah, dan kadang saya begitu letih bermain-main dengan pikiran saya sendiri. Saya memaksakan diri untuk tidak hanyut dengan itu semua.
Jika kalimatullah itu adalah hujjah, maka semua interksi dan koneksi di alam semesta ini adalah terjemahannya.
Dan jika semua ini terlalu membingungkan, tugas kita adalah menemukan jawabannya. Apapun caranya!
Hujan mulai berhenti, menyisakan tetes-tetes air dari ujung genting, dedaunan, dan tempat mana saja yang kuyup diguyurnya sedari tadi. Saya masih dikamar, kali ini ada yang ringan dikepalaku. Beberapa pesan Ny.Sukab masuk, mengingatkan saya tentang agenda-agenda, tawaran ke luar kota, dan kesibukkan yang menanti akhir minggu ini. Lihatlah, saya memang tidak punya ruang untuk meaningless stuff. Seharusnya saya ingat itu baik-baik. Dan akhirnya beranjak, sebelum Ny.Sukab menunggu terlalu lama untuk acara sore ini. Ada banyak agenda rupanya...
Saya sendirian saja di kamar, menyusun postingan kali ini (akhirnya!). Sambil mengingat-ingat kembali rentetan aktivitas sepanjang bulan ini, tema besar seharusnya adalah seputar penyelesaian skripsi. Sebelum akhirnya berubah jadi tema-tema lain. Ahh, anda tau-lah. Sesuatu bernama ketidak konsistenan itu...
Minggu-minggu ini saya tidak teralalu antusias membaca topik berat. Mungkin sedang jenuh. Alih-alih menyelesaikan beberapa buku ekonomi ideologis dari daftar bacaku, saya memilih topik-topik ringan yang cukup menghibur dan yang paling penting, menjaga paradigma kritis memandang hidup ini.
Ada beberapa judul baru yang cukup asyik dapat saya temukan, diantaranya ”Memoar Seorang Filosof” karya Bryan Magee. Dan sebuah buku yang bercerita tentang bagaimana hormon mempengaruhi seorang aktris terkenal yang sekaligus seorang istri dan ibu, Brooklyn Shields. Bukunya berjudul ”Pospartum Depression” kalo ga salah. Saya pikir layak anda jadikan raferensi untuk bacaan ringan. Keduanya cukup inspiring. Selain itu, saya juga menambah koleksi bacaan bernuansa feminis, kali ini berupa karya fiksi (novel) 634 halaman berjudul ”Brick Lane” karya Monica Ali. Tidak bisa dibohongi, buku ini menururt saya sarat dengan nuansa feminis, dengan mengangkat kisah (fiktif) seorang gadis belia dari desa Mumbay-India, bernama Nazneen. Kelak di akhir cerita, Nazneen yang tadinya sangat lugu dan dan cenderung pasif, bahkan tidak menikmati pernikahannya, bermetamorfosis menjadi istri dan ibu yang cerdas, dan berhasil menyelamatkan bahtera pernikahannya. Dari hidup yang awalnya membosankan (Sungguh! Saya sampai betul2 bosan membaca bagian2 cerita ini, seolah tak terbayangkan bagaimana hambarnya hidup Nazneen. Saya skip sampai beberapa bab saking bosannya) sampai pada kebahagiaan di akhir cerita. Unsur paling kental dari feminisme tertuang dalam ide kesetaraan peran (gender). That is all about.
Anyhow... Saya malah jadi menyoroti latar belakang ”Brick Lane” yang settingnya di sebuah daerah kumuh di India bernama Mumbay. Awal Maret lalu, anda pasti tahu, sebuah film dari negri ini (juga berlatar cerita di Mumbay) ”Slamdog Millionaire” telah meraih delapan piala oscar. Ada apa dengan Mumbay??. Ide film itu sangat sederhana sebenarnya, tentang keberuntungan. Thats it! Tidak banyak unsur edukasi dan nilai moralnya. Selain karena idenya yang mungkin fresh, latar budaya ekses dari kemiskinan penduduk negri tersebut-juga secara blak-blakkan dipamerkan pada dunia. Orang Hoolywood bisa jadi senang dengan yang beginian, jadilah dengan gegap gempita delapan oscar mereka (Slamdog Millionaire Crews) boyong pulang.
Hey... lihatlah, saya jadi malah mengajak anda ngobrol ga penting. Ha3...
Memang benar, saya sedang tidak punya topik khusus. Saat ini bagaikan ada benang kusut dikepala saya. Mengurainya satu persatu adalah proses yang tidak mudah, dan kadang saya begitu letih bermain-main dengan pikiran saya sendiri. Saya memaksakan diri untuk tidak hanyut dengan itu semua.
Jika kalimatullah itu adalah hujjah, maka semua interksi dan koneksi di alam semesta ini adalah terjemahannya.
Dan jika semua ini terlalu membingungkan, tugas kita adalah menemukan jawabannya. Apapun caranya!
Hujan mulai berhenti, menyisakan tetes-tetes air dari ujung genting, dedaunan, dan tempat mana saja yang kuyup diguyurnya sedari tadi. Saya masih dikamar, kali ini ada yang ringan dikepalaku. Beberapa pesan Ny.Sukab masuk, mengingatkan saya tentang agenda-agenda, tawaran ke luar kota, dan kesibukkan yang menanti akhir minggu ini. Lihatlah, saya memang tidak punya ruang untuk meaningless stuff. Seharusnya saya ingat itu baik-baik. Dan akhirnya beranjak, sebelum Ny.Sukab menunggu terlalu lama untuk acara sore ini. Ada banyak agenda rupanya...
Subscribe to:
Posts (Atom)